Synopsis – English :

In an era where product and consumption come directly to homes through television, politics are present in the disguise of news. Media conglomeration as a global phenomenon occurring in almost all over the world is now shaking Indonesia. After political reform in 1998, conglomeration has become the latest fashion of Indonesian media industry. This pattern is developing vastly and seems to be authorized as the guidelines to run news business for the media magnate.

Thousands of media in various formats – print, online, radio, television — which information are absorbed by 250 million people in Indonesia, are owned by merely 12 media groups. These media group owners, especially television, have their own interests. In a vulgar way, they flooded public space with news, campaign, and programs that show clearly their agenda and their own interest that stands outside the public needs. They are racing to run for a presidency in the next election.

The story starts with Luviana, a journalist who had been working for 10 years in Metro TV. She was laid off for critically questioning Metro TV management’s policies toward its staff and for criticizing the newsroom. Meanwhile, two Lapindo victims Hari Suwandi and Harto Wiyono, spent a month walking from Porong-Sidoarjo to Jakarta to seek justice for the victims of Lapindo mudflow who haven’t received compensation from PT Menarak Lapindo Ltd, but their story ended tragically on television.

Through these two stories, the documentary will take us to the world Behind the Frequency – a journey that leads us to question what is the meaning of ‘the media’? For if there is the media? How should the press work? Who should they serve? ***

________________

Sinopsis – Indonesia :

Di era dimana produk dan konsumsi mendatangi rumah-rumah melalui televisi, politik hadir melalui kepentingan yang menyaru dalam berita. Konglomerasi sebagai fenomena global media yang terjadi di hampir seluruh dunia, kini mengguncang Indonesia.

Setelah reformasi 1998, dengan cepat konglomerasi menjadi corak industri media di Indonesia, sebuah pola yang terus berkembang dan seolah dilanggengkan dengan dijadikannya sistem tersebut sebagai pegangan oleh para pelaku usaha media yang menjalankan operasional industri media di Indonesia.

Ribuan media dengan aneka format baik cetak, online, radio, televisi, yang informasinya diserap 250 juta penduduk Indonesia, hanya dikendalikan oleh 12 group media. Para pemilik group media – khususnya pemilik televisi tersebut, memiliki kepentingannya sendiri-sendiri dan secara vulgar terang-terangan membanjiri publik dengan berita dan tayangan-tayangan dalam kanal-kanal media milik mereka yang banyak me-manisfestasi-kan kepentingan yang jelas bukan merupakan kepentingan publik. Mereka berlomba untuk menjadi presiden dalam pemilu 2014 mendatang.

Luviana adalah seorang jurnalis, telah bekerja 10 tahun di Metro TV, di-PHK-kan karena kritis mempertanyakan sistem manajemen yang tak berpihak pada pekerja, dan mengkritisi newsroom. Hari Suwandi dan Harto Wiyono adalah dua orang warga korban lumpur Lapindo yang berjalan kaki dari Porong-Sidoarjo ke Jakarta, menghabiskan waktu hampir satu bulan dalam perjalanan demi tekad mencari keadilan bagi warga korban lumpur Lapindo yang pembayaran ganti ruginya oleh PT Menarak Lapindo Jaya belum lagi terlunasi, dan kisahnya berakhir tragis di televisi.

Melalui dua kisah tersebut, film dokumenter ini akan membawa kita pada cerita Di Balik Frekuensi – sebuah perjalanan yang menuntun kita untuk mempertanyakan kembali apa makna ‘media’. Untuk apakah media ada? Bagi siapakah seharusnya mereka bekerja? ***

Likes: 2

Viewed: 450

source